Tugas Soft Skill 3

Terapi Person Centered

Terapi ini adalah terapi yang berpusat pada pribadi/pasien atau terapi nondirektif. Nondirektif artinya adalah pasien sendiri yang memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis hanya memantulkan  Tokoh dalam terapi ini yaitu Carl Roger. Awalnya digunakan pada tahun 1942. Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Gangguan psikologis terjadi karena orang lain menghambat individu untuk mencapai aktualisasi diri.

Konsep utamanya adalah pada hakekatnya manusia mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Organisme bersifat konstruksif, realistic, progresif, dapat dipercayai dan secara kodrat alamiah memiliki potensi untuk berkembang. Aspek-aspek negative yang terjadi pada seseorang seperti irrasional, anti sosial, egoistis, kejam, distruktif, kurang matang dan regresif disebabkan karena kehidupannya tidak selaras dengan kodrat alamiahnya atau dengan kata lain konsep diri sebenarnya tidak selaras dengan konsep diri idealnya.

Bila individu sulit menerima perasan dan tingkah laku semasa kecil, kemungkinan besar mereka tidak mengakui bagian diri yang tidak disenanginya. Untuk dapat diakui orang lain, biasanya kita akan menggunakan topeng, oleh karena itu kit jadi belajar “untuk dilihat dan bukan untuk didengar”. Karena hal itu, kita menjadi tuli bahkan tidak bisa menerima suara-suara yang sebenarnya berasal dari diri kita sendiri. Jika hal ini berjalan terus menerus, maka kita perlahan-lahan akan mengembangkan konsep diri yang menyimpang yaitu mempertahankan pandangan bahwa orang lain adalah bagian dari diri kita yang dapat mengakibatkan kita menjadi orang yang tidak mampu menyesuaikan diri, tidak bahagia, dan bingung mengenai diri kita siapa dan apa.

Terapi client centered ini membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sebenarnya dengan menciptakan penerimaan diri yang dapat diwujudkan dalam hubungan terapeutik. Terapis tidak boleh memaksakan kehendak atau tujuan tujuan yang ia miliki terhadap pasien. Terapis memantulkan perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantu pasien berhubungan dengan perasaan yang lebih mendalam serta bagian dari dirinya yang tidak akui/diterima masyarakat. Dengan kata lain, terapis menguraikan kata-kata yang diungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.

Metode Terapi ;

6 Syarat dalam proses terapi yang harus dipenuhi terapis :

  1. Terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri
  2. Terapis mengakui bahwa pasien memiliki dorongan yang kuat dalam dirinya sendiri untuk mengarah pada kematangan dan independensi
  3. Menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana pasien dapat mengungkapkan atau juga tidak mengungkapkan apa saja yang ia inginkan
  4. Membatasi tingkah laku (misalnya psien mengungkapkan keinginannya untuk memperpanjang pertemuan melampaui batas waktu yang disetujui, tetapi terapis tetap mempertahankan jadwal semula)
  5. Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman terhadap apa yang diungkapkan pasien
  6. Terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberi penafsiran, menasihatkan, mengajarkan, membujuk, dan meyakinkan kembali.

Ciri Ciri Terapi :

  1. Perhatian diarahkan pada pribadi bukan pada masalah. Tujuannya bukan untuk pemecaha masalah tetapi membuat individu itu tumbuh untuk dapat mengatasi masalahnya sendiri baik masalah sekarang atau yang akan datang dengan cara yang tepat.
  2. Penekanan lebih kepada faktor emosi daripada intelektual karena perbuatan lebih banyak dipengaruhi emosi daripada pikiran.
  3. Memberi tekanan yang lebih besar pada keadaan yang dialami sekarang bukan di masa lalu karena pola emosi sekarang sama saja dengan pola emosi yang lalu.
  4. Penekanan pada hubungan terapeutik. Pengalaman tumbuh dari hubungan terapeutik itu sendiri sehingga individu belajar memahami diri sendiri, membuat keputusan, dan bisa berhubungan dengan orang lain secara lebih dewasa.

Mengenai hubungan terapeutik, ada tiga hal pegangan singkat, yaitu :

  1. Tahap pertama : eksplorasi diri. Orang lebih berani memreriksa diri sendiri tentang keberadaannya dalam kehidupan ini.
  2. Tahap kedua : orang mulai memahami hubungan antara keberadaannya dan kemana arah kehidupannya.
  3. Tahap ketiga : melakukan tindakan yang terarah dan tujuan yang jelas.

Langkah-langkah terapi nondirective :

  1. Pasien datang sendiri kepada terapis secara sukarela.
  2. Merumuskan situasi bantuan. Pasien disadarkan bahwa terapis tidak memiliki awaban, tetapi melalui terapi ini pasien akan memperoleh sesuatu untuk memecahkan masalahnya sendiri.
  3. Mendorong pasien untuk mau berbuat mengungkapkan perasaan yang dirasakan sangat bebas dan obyektif. Terapis meningkatkan keberanian pasien dalam mengungkapkan perasaannya.
  4. Terapis berusaha dapat menerima dan menjernihkan perasaan pasien yang bersifat negatif.
  5. Apabila perasaan-perasaan negatif telah terungkapkan sepenuhnya maka secara psikologis bebannya akan berkurang.
  6. Terapis berusaha menerima perasaan positif pada pasien. Perasaan positif ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang “wah” pada diri pasien, melainkan merupakan seuatu hal yang wajar ada pada seseorang sehingga pasien dapat belajar/menyadari dirinya sendiri.
  7. Pemahaman, pengenalan, dan penerimaan mengenai dirinya sendiri.
  8. Setelah memiliki pemahaman tentang masalahnya dan menerimanya, mulailah membuat suatu keputusan untuk langkah
  9. Mulai melakukan tindakan-tindakan yang positif.
  10. Perkembangan lebih lanjut tentang wawasan pasien.
  11. Tindakan positif klien meningkat. Pasien lebih percaya diri dan bisa membuat keputusan sendiri. Tahap ini merupakan puncak hubungan antara terapis dan pasien.
  12. Mengurangi ketergantungan pasien atas terapis dan memberitahukan secara bijaksana bahwa proses terapi perlu diakhiri.

Sumber :

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Jakarta: Kanisius

Terapi Analisis Transaksional

Terapi analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne yang merupakan seorang ahli di bidang psikologi dari kelompok humanism. Ia mulai mengembangkan analisis transaksional ini ketika bertugas dalam Dinas Militer Amerika Serikat diminta membuka program terapi kelompok bagi para serdadu yang mendapat gangguan emosional sebagai akibat Perang Dunia ke-2. Terapi ini sangat popular dan digunakan hampir di semua bidang ilmu perilaku dan menjadi teori komunikasi antarpribadi yang mendasar. Kata transaksi mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Yang ditukar adalah pesan-pesan verbal dan nonverbal. Teknik ini dapat digunakan dalam terapi individual maupun kelompok. Terapi berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat pasien dan menekankan kemampuannya untuk membuat putusan baru. Menekankan aspek-aspek kognitif rasional behavioral dan berorientasi pada peningkatan kesadaran sehingga akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya.

Asumsi

Orang-orang bisa belajar mempercayai diri sendiri berfikir dan memustuskan untuk diri sendiri dan mengungkapkan perasaan-perasaannya. Pada dasarnya, manusia memiliki keinginan untuk memperoleh sentuhan. Yang menjadi kepribadian seseorang adalah bagaimana individu memperoleh sentuhan melalui transaksi/pertukaran. Kepribadian seseorang terbentuk dari hidupnya sejak usia muda.

Tujuan Terapi

Mengkaji secara mendalam proses transaksi yaitu siapa yang terlibat dan pesan apa yang dipertukarkan.

Dalam diri setiap manusia, seperti dikutip Collins (1983), memiliki tiga status ego.

Sikap dasar ego yang mengacu pada

  • sikap orangtua (Parent= P. exteropsychic);
  • sikap orang dewasa (Adult=A. neopsychic);
  • dan ego anak (Child = C, arheopsychic).

Ketiga sikap tersebut dimiliki setiap orang (baik dewasa, anak-anak, maupun orangtua). Sikap orangtua yang diwakili dalam perilaku dapat terlihat dan terdengar dari tindakan maupun tutur kata ataupun ucapan-ucapan­nya. Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP). Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, me­larang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP). Setiap orang juga menurut Berne memiliki sikap orang dewasa. Sikap orang dewasa umumnya pragmatis dan realitas. Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber­sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya

Berne mengajukan tiga jenis transaksi antarpribadi yaitu:

  • Transaksi komplementer

Jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena ter­jadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi tran­saksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

  • Transaksi silang

Terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah­pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

  • Transaksi ter­sembunyi

Jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar­pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter­sembunyi. Transaksi tersembunyi 1 segi (angular) yaitu jika terjadi 3 sikap dasar sedangkan yang lainnya di­sembunyikan. Kalau yang terjadi ada 4 sikap dasar dan yang disembunyikan 2 sikap dasar disebut dengan dupleks.

Berne juga mengajukan rekomendasinya untuk posisi dasar seseorang jika berkomunikasi antarpribadi secara efektif dengan orang lain.

Ada empat posisi yaitu :

  • Saya OK, kamu OK (I’m OK., you’re OK)
  • Saya OK, kamu tidak OK (I’m OK, you’re not OK)
  • Saya tidak OK, kamu OK (I’m not OK, yo/ire OK)
  • Saya tidak OK, kamu tidak OK (I’m not OK, you’re not OK).

Sumber :

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Sugiyanto,%20M.Pd./14.%20Bahan%20Ajar%2010%20konseling%20eric%20berne.PDF

http://www.academia.edu/7216556/Konseling_Analisis_Transaksional

Terapi Humanistik Eksistensial

Terapi eksistensial-humanistik adalah terapi yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan pada pemahaman filosofis tentang menjadi manusia yang utuh dan apa makna menjadi manusia. Terapi ini memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar juga pada apa yang dialami pasien pada masa masa sekarang bukan pada masa lampau.

Salah satu tokoh yang berkaitan dengan terapi ini adalah Abraham Maslow.Maslow menyebutnya sebagai teori holistic-dinamis karena teori ini menganggap bahwa keseluruhan dari seseorang termotivasi oleh satu atau lebih kebutuhan dan orang memiliki potensi untuk tumbuh menuju kesehatan psikologis yaitu aktualisasi diri. Untuk memnuhi aktualisasi diri, ada beberapa kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan akan lapar, keamanan, cinta, dan harga diri. Setelah itu semua terpenuhi, maka seseorang bisa mencapai aktualisasi diri.

Menurut Maslow, tujuan terapi ini adalah agar klien dapat memiliki nilai-nilai kehidupan seperti menghargai kejujuran, keadilan, kebaikan, kesederhanaan, dll. Maka dari itu, klien harus terbebas dari ketergantungan mereka terhadap orang lain sehingga keinginan alami mereka dapat aktif. Sebagian besar orang yang mencari terapi telah memenuhi dua kebutuhan di level rendah, tetapi sulit memnuhi kebutuhan cinta dan keberadaan. Oleh karena itu, psikoterapi sebagian besarnya merupakan proses interpersonal yang hangat dan penuh kasih antara klien dan terapis. Setelah itu terpenuhi, maka klien dapat memenuhi rasa percaya diri dan penghargaan diri. Oleh karena itu hubungan interpersonal antara klien dan terapis merupakan obat psikologis yang terbaik.

Sedangkan tujuan menurut Gerald Corey yaitu :

  1. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik.
  2. Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
  3. Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri.

Teknik terapi ini menurut Akhmad Sudrajat yaitu teknik client centered therapy sebagaimana dikembangkan oleh Carl Rogers yaitu meliputi penerimaan, rasa hormat, pemahaman, menentramkan hati, pertanyaan terbatas, reflection dari perasaan, dan memberi dorongan.

Peran dan fungsi terapis adalah sebagai berikut :

  1. Memahami dunia klien dan membantu klien untuk berfikir dan mengambil keputusan atas pilihannya yang sesuai dengan keadaan sekarang.
  2. Mengembangkan kesadaran, keinsafan tentang keberadaannya sekarang agar klien memahami dirinya bahwa manusia memiliki keputusan diri sendiri.
  3. Sebagai fasilitator memberi dorongan dan motivasi agar klien mampu memahami dirinya dan bertanggung jawab menghadapi reality.
  4. Membentuk kesempatan seluas – luasnya kepada klien, bahwa putusan akhir pilihannya terletak ditangan klien.

Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa. Yang paling diutamakan dalam terapi ini adalah hubungan antara terapis dan klien.

Sumber :

Corey, Gerald. (2011). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : Refika Aditama

Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.

Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Jakarta: Kanisius

Logoterapi

Tokoh logoterapi adalah Viktor Emil Frankl. Ia menekankan pentingnya kemauan akan arti. manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri kemudian manusia harus mencoba untuk memenuhinya. Menurut Frank, kehidupan mempunyai makna dan harus dijalani. Prinsip utama dari logoterapi ini adalah mencari makna dalam hidup. Sedangkan konsep dasar logoterapi adalah kebebasan, berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup. Mungkin kita bingung dengan kata logoterapi. Kata logo berasal dari bahasa Yunani yaitu lohos yang berarti makna dan juga rohani. sedangkan terapi berasal dari bahasa inggris therapy yang memiliki arti penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit. Jadi dapat disimpulkan bahwa logoterapi adalah penggunaan teknik-teknik menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui penemuan makna hidup.

Menurut Frankl yang paling dicari dan diinginkan manusia dalam hidupya adalah makna yang bisa didapat melalui pengalaman hidupnya di masa lalu maupun masa sekarang. Baik pengalaman yang menyenangkan dan menyedihkan

Tujuan logoterapi

Logoterapi bertujuan agar pasien dapat menemukan makna hidup dari kehidupannya sehingga bisa terbebas dari masalah-masalah. Secara rinci, tujuan logoterapi adalah sebagai berikut :

  1. Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang ada pada setiap orang tanpa dipengaruhi ras, keyakinan, dan agama.
  2. Menyadari sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat, diabaikan, dan terlupakan.
  3. Memanfaatkan daya tersebut untuk bangkit dari penderitaan untuk mampu menemukan makna dan menghadapi berbagai rintangan di kehidupan setelahnya.

Peran terapis

Terapis harus mampu mengalami secara subjektif persepsi tentang dunianya. Dia juga harus aktif dalam proses terapeutik untuk memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa dan kecemasan-kecemasan. Terapis terlibat dalam pembukaan pintu diri sendiri maksudnya adalah terapis mampu melepaskan pemikiran, masalah yang membuat pasien merasa tidak bebas secara psikologis. Dengan begitu, pasien akan lebih sadar tentang siapa dirinya dan apa yang harus dia lakukan di masa depannya.

Pengertian dan konsep logoterapi

Kata “Logos” berasal dari bahasa Yunani berarti makna/meaning. Logoterapi beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life). Kebermaknaan hidup dapat diartikan sebagai kualitas penghayatan individu terhadap seberapa besar dirinya dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi serta kapasitas yang dimilikinya dan terhadap seberapa jauh dirinya telah mencapai tujuan-tujuan hidupnya dalam memberi makna kepada kehidupannya.

Logoterapi mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai kesatuan raga, jiwa, dan rohani yang tak terpisahkan. Selain itu, logoterapi memusatkan perhatian pada kualitas-kualitas insani seperti hasrat untuk hidup bermakna, hati nurani, kreativitas, rasa humor dan memanfaatkan kualitas itu dalam bidang pendidikan, terapi dan pengembangan kesehatan mental.

Inti ajaran logoterapi :

  • HIdup itu bermakna dalam kondisi apapun sekalipun dalam kesedihan.
  • Manusia memiliki kehendak hidup bermakna yang menjadi motivasi utama dalam menjadi manusia dan tercipta rasa bahagia bila telah memenuhinya.
  • Kita memiliki kebebasan untuk menemukan makna hidup kita.

Konsep utama yang menjadi dasar filosofis untuk meraih kebermaknaan hidup ada 3, yaitu kebebasan berkehendak (freedom of will), keinginan akan makna (will to meaning) dan makna hidup (meaning of life). Ketiga konsep tersebut saling mengikat datu sama lainnya sebagai suatu rangkaian mendasar.

Sumber makna hidup

  • Nilai – nilai kreatif/daya cipta

Diwujudkan dalam aktivitas kreatif dan produktif. Makanya lebih terletak pada sikap dan cara kerja yang melibatkan pribadi (dedikasi, cinta kerja, dan kesungguhan) pada pekerjaannya. Individu yang menghayati makna dari karyanya akan menghasilkan karya dengan kualitas terbaik sekaligus memberikan makna.

  • Nilai penghayatan

Memahami, menghayati, meyakini berbagai nilai yang ada dalam kehidupan seperti nilai kebenaran, keindahan, kasih saying, kebajikan dan keimanan.

  • Nilai bersikap

Mengambil sikap yang tepat terhada kondisi-kondisi yang tidak dapat diubah atau peristiwa-peristiwa tragis yang telah terjadi dan tidak dapat dihindari lagi. Yang dapat diubah dalam hal ini adalah sikap, bukan peristiwa-peristiwa tragisnya. Dalam mengabil sikap yang teapt, beban tragis itu berkurang bahkan bisa menimbulkan makna yang berarti atau menjadi hikmah.

  • Akibat kegagalan pencapaian kebermaknaan hidup

Salah satu sndrom yang muncul pada masyarakat modern adalah sindrom ketidakbermaknaan. Tahap awal adalah frustasi eksistensial/kehampaan eksistensial yaitu sebuah fenomena umum yang berkaitan dengan kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna. Frustasi eksistensial adalah suatu penderitaan batin yang berkaitan dengan ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dan mengatasi masalah personal secara efisien.

Tahap keduanya adalah neurosis noogenik yaitu sebuah manifestasi khusus dari frustasi eksistensial yang dapat berupa tampilan simtomatik neurosis psikogenik seperti depresi, hiperseksualitas, alkoholisme, dan tindak kejahatan yang lainnya.

Tahap-tahap terapi :

Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:
1. Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. pada tahap ini, terapis menciptakan suasana yang nyaman sambil melakukan pembinaan rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan.
2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah.Terapis membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi pasien. Dalam logoterapi, pasien sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah sebagai kenyataan.
3. Tahap pembahasan bersama. Terapis dan pasien bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup meskipun hal yang menyedihkan.
4. Tahap evaluasi dan penyimpulan. Pemberian interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku pasien. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

Teknik-teknik

  • Paradoxial Intention

Teknik ini memanfaatkan kemampuan insani dalam mengambil jarak dan kemampuan mengambil sikap terhadap keadaan diri sendiri dan lingkungannya. Selian itu, teknik ini memanfaatkan rasa humor. Pasien diminta menyadai pola keluhannya, megambil jarak pada keluhannya itu dan menanggapi sendiri secara humoris. Teknik ini berusaha mengubah sikap takut menjadi akrab dengan pendekatan humor.

  • Dereflection

Teknik ini memanfaatkan kemampuan transendensi diri ini seseorang berupaya untuk keluar dan membebaskan diri dari kondisinyakeluhannya. Ia lebih mengeluarkan perhatiannya pada hal yang positif, bermanfaat dan bermakna bagi dirinya lalu merealisasikannya.  Teknik ini berusaha mengubah sikap yang terlalu memperhatikan diri sendiri menjadi melakukan komitmen untuk melakukan sesuatu yang penting bagi dirinya.

  • Medical Ministry (Bimbingan rohani)

Roh manusia akan tetap sehat selama ia tetap sadar akan tanggung jawabnya. Tanggung jawab yang dimaksud adalah tanggung jawab merealisasikan nilai-nila, termasuk nilai – nilai yang ditemu individu. Melalui teknik bimbingan rohani, pasien yang menderita didorong kea rah sikap yang positif terhadap penderitaannya sehingga ia bisa menemukan makna hidupnya dari penderitaan tersebut. Misalnya pasien meninjau masalahnya dari segi seni, agama, dan sebagainya.

Metode-metode menemukan hidup

  • Pemahaman diri
  • Bertindak positif
  • Pengakraban hubungan
  • Pendalaman trinilai
  • Ibadah

Sumber :

Bastaman, H. D. (1996). Meraih hidup bermakna. Jakarta : Paramadina

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/195901101984032-EUIS_FARIDA/makalah_logoterapi_bk_keluarga.pdf

http://wardalisa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/26405/Materi+10+-+TeoriKepribadianEmilFrankl.pdf

Koeswara, E. (1992). Logoterapi psikoterapi Victor E. Frankl. Yogyakarta : Kanisius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s